BUDI DAYA IKAN NILA MERAH SECARA INTENSIF

 Dalam pembenihan ikan nila merah (Oreochromis niloticus) secara intensif terbagi atas :
1. Pemilihan Induk (bibit) dan penyimpanan
2. Pematangan gonad dan telur induk.
3. Pemijahan dan penetasan telur
4. Pendederan dan pembesaran.


1. Pemilihan Induk (bibit) dan penyimpanan
1.1. Pemilihan induk (bibit) dan penyimpanan
Untuk memilih induk yang baik diperlukan pengalaman. Namum demikian sebagai pedoman praktis ciri ciri induk ikan nila merah yang baik antara lain :
- Umur antara 4 – 5 bulan dan bobot 100-150 g. Induk yang paling produktif bobotnya antara 500 – 600 g.
- Tanda nila jantan, warna badan lebih gelap dari betina, bila waktunya mijah, bagian tepi sirip berwarna merah cerah, sifatnya galak terutama terhadap jantan lainnya. Alat kelamin berupa tonjolan (papila) di belakang lubang anus. Pada tonjolan itu terdapat satu lubang untuk mengeluarkan sperma. Tulang rahang melebar ke belakang yang memberi kesan kokoh. Bila tiba waktunya memijah, sperma yang berwarna putih dapat dikeluarkan dengan pengurutan perut ikan ke arah belakang. Sisik nila jantan lebih besar dari pada nila betina. Sisik di bawah dagu dan perut berwarna gelap. Sirip punggung dan ekor bergaris yang terputus putus.
- Tanda nila betina, alat kelaminnya berupa tonjolan di belakang anus. Namun pada tonjolan itu ada 2 lubang. Lubang yang depan untuk mengeluarkan telur, sedang lubang belakang untuk mengeluarkan air seni. Warna tubuh lebih cerah dibanding dengan jantan dan gerakannya lamban. Bila telah mengandung telur yang matang (saat hampir mijah), perutnnya tampak membesar. Namun bila perutnya di urut tidak ada cairan atau telur yang keluar. Sisik di bawah dagu dan perut berwarna putih/cerah. Sirip punggung dan ekor bergaris garis tidak terputus putus.

1.2. Penyimpanan induk.
- Kolam penyimpanan induk dibuat minimum ukuran 2 x 1 m, kedalaman 0,75 m untuk 2 ekor indukan, aliran air minimal 1 L/menit/m2
- Pakan diberikan 3 % x bobot total induk 3 kali sehari
- Induk jantan dan betina disimpan secara terpisah.
- Padat penebaran induk 1 ekor/m2.

2. Pematangan gonad dan telur induk.
- Pematangan gonad dan telur induk merupakan tahap pertama dalam pemijahan benih. Dalam bak penyimpanan aliran air paling sedikit 0,8 L/menit.
- Induk diberi pakan (pelet), 3 % x bobot total induk dan diberikan sebanyak 3 kali sehari, yang mengandung protein sebanyak 30-40 % dengan kandungan lemak tidak lebih dari 3 %.Perlu pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal dari taoge dan daun daunan/sayuran yang di iris. Komposisi pakan dapat dilihat pada Tabel
- Kurang lebih 2 minggu kemudian, induk sudah mengalami matang gonad dan telur. Pada saat itu induk sudah dapat dipijahkan. Bobot induk antara 500 – 600 g/ ekor.

3. Pemijahan dan penetasan telur.
- Untuk kolam yang luasnya 100 m2 dapat ditebari induk nila sebanyak 90 ekor yang terdiri dari 30 ekor jantan dan 60 ekor betina.
- Bila telah mendapatkan pasangan, ikan jantan membuat cekungan di dasar kolam sebagai tempat pemijahan. Cekungan berbentuk bulat cekung dengan garis tengah kira 30-50 cm atau tergantung ukuran induk ikan.
- Setelah cekungan selesai dibuat, pasangan ikan nila melakukan pemijahan pada saat matahari terbenam, selama proses pemijahan induk betina berada di dalam cekungan. Kemudian induk jantan mendekati induk betina dan pada saat itu induk betina mengeluarkan telurnya. Telur telur itu tersimpan dalam cekungan dan dalam waktu yang bersamaan induk jantan menghamburkan spermanya di situ dan terjadilah pembuahan (fertiliasi) telur.
- Pelepasan telur terjadi beberapa kali dalam jarak waktu beberapa menit. Waktu yang diperlukan untuk pemijahan kurang lebih 10-15 menit. Sekali bertelur induk nila dapat mengeluarkan telur 300 -3000 butir, tergantung berat dan umur induk betina. Sebaiknya induk betina nila dipijahkan sampai umur 2 tahun.
- Telur yang telah dibuahi lalu di kulum oleh induk betina di dalam rongga mulut untuk dierami, selama mengerami telur induk betina tidak makan sehingga kelihatan kurus.
- Selesai pemijahan induk nila jantan pergi meninggalkan induk betina. Beberapa hari kemudian induk jantan itu dapat melakukan perkawinan dengan betina lainnya.
- Telur menetas setelah 2 hari, anak nila (burayak) yang baru menetas masih mengandung kantong kuning telur. Ukuran burayak yang baru menetas antara 0,9 – 1 mm. Burayak ini masih terus tinggal di dalam mulut induknya sampai 5-7 hari sampai kuning telurnya terserap habis. Setelah itu burayak mulai mencari makan di luar mulut induknya.
- Ketika burayak belajar makan, burayak memakan zooplankton yang ukuran kecil sekali. Apabila tidak terdapat zooplankton, pakannya dapat diganti dengan bekatul atau tepung kedelai.

4. Pendederan
- Pendederan benih adalah pemeliharaan benih ukuran lepas induk (ipukan), yaitu kebul yang berumur 5-7 hari sampai ukuran siap tebar untuk pembesaran yang berbobot 100 g/ekor. Pada pembenihan secara intensif pada umumnya ada 3 tahap pendederan
- Luas kolam pendederan dibuat antara 100 m2. Kolam pendederan disiapkan dengan cara dikeringkan terlebih dahulu selama kira kira 3 hari. Selanjutnya dilakukan pemupukan dengan kapur tembok sebanyak 10 g/m2 (untuk kolam baru 100-250 g/m2), kotoran ayam 25 g/m2, urea 2 g/m2, TSP 5 g/m2. Jika didalam kolam sering tumbuh lumut hijau (Spirogyra) sebaiknya jangan di pupuk urea. Setelah pupuh di dasar kolam rata, kolam dapat di aliri air sampai setinggi 0,5 m selama 5-7 hari. Sebelum air masuk ke kolam pendederan, air tersebut harus di saring dahulu dalam bak filter sehingga air menjadi bersih.

- Pendederan Tahap I
- Pendederan Tahap I ini menggunakan benih ukuran kebul (lepas induk/ipukan) dengan padat tebar 300 ekor/m2. Benih diberi pakan emulsi dengan formula tertentu. Jumlah pakan yang diberikan tergantung dari umur benih. Untuk ukuran lepas induk/ipukan diberi pakan sebanyak 1 g/1000 ekor yang diberikan 6-8 kali sehari, benih umur 5-10 hari sebanyak 2 g/1000 ekor dengan 6-8 kali sehari, dan untuk benih umur 10-15 hari sebanyak 3 g/1000 ekor dengan 6-8 kali sehari.
- Debit air yang masuk ke kolam pendederan harus diatur, yaitu sekitar 100 ml/detik. Kedalaman air 0,5 m. Benih dipelihara selama 12-15 hari, benih yang dipanen rata rata dapat mencapai 80-90 % dengan ukuran 3-5 cm/ekor.

- Pendederan II dan III
- Persiapan pendederan II dan III tidak jauh berbeda dengan pendederan I, hanya dalam pedederan II ini padat tebar menjadi 100 ekor/m2. Benih diberi pakan tambahan berupa tepung dengan formula tertentu pada minggu ke I dan remah pada minggu –minggu selanjutnya sebanyak 5 x bobot benih tebar yang diberikan 6-8 kali sehari
- Benih dapat dipanen setelah dipelihara selama 21 hari. Panen dapat mencapai 70-80% dengan ukuran 8-12 cm/ekor.
- Apabila benih belum mencapai ukuran 100 g/ekor, maka dilanjutkan dengan pendederan III, padat tebar 50 ekor/m2. Pada pendederan III ini benih diberi pakan remah dengan formula tertentu sebanyak 4 x bobot tebar benih yang diberikan 5 kali sehari pada minggu ke I. Untuk minggu selanjutnya benih diberi pakan pelet 2 mm dengan formula tertentu, sebanyak 3 x bobot total benih, diberikan 4 kali sehari selama 3 minggu. Hasil panen dapat mencapai 65-80 % dan rata rata ukuran benih 100-130 g/ekor.
- Pembesaran benih ikan berumur 81 hari (100 g) sampai dengan yang dibutuhkan untuk Konsumsi atau untuk Induk. Diberi pakan pelet 3 kali sehari.



PAKAN BENIH
Pakan Buatan
Dalam pembenihan secara intensif biasanya diutamakan pemberian pakan buatan yang terdiri dari :
1. Emulsi
2. Tepung dan remah
3. Pelet

1.1 Emulsi
- Emulsi merupakan bentuk pakan tambahan untuk benih yang berumur 5-21 hari (lepas hapa). Bahan pakan benih ikan ini dibuat dari kuning telur (ayam atau bebek) dan tepung kedelai dengan perbandingan 1:1 ditambah vitamin 1 %.
- Cara membuat emulsi adalah dengan melarutkan sebutir kuning telur (itik atau ayam) kedalam 200 ml air matang ditambah 40 g tepung kedelai halus, 5 g tepung sagu (sejenisnya) sebagi perekat, 1 g vitamin.
- Campurkan bahan bahan tersebut diaduk sampai rata sambil dipanaskan sampai berbentuk emulsi.
- Pakan ini cukup untuk benih seberat 1 kg yang diberikan 6-8 kali sehari selama 5 hari. Pakan ini diberikan dengan cara disemprotkan merata diatas permukaan air.
- Pakan emulsi ini tidak boleh disimpan di udara terbuka lebi dari 10 jam. Sebaiknya disimpan dalam lemari es atau membuatnya hanya setiap akan memberi pakan.

2.1 Tepung dan remah
- Tepung merupakan pakan tambahan benih ikan yang berumur 21-40 hari. Jenis pakan ini terdiri dari tepung halus, yang dibuat dari pelet kering yang digiling halus.
- Untuk benih yang berumur 41-80 hari, diberi pakan remah berupa pecahan pelet kering (pelet yang dipecah).

3.1 Pelet.
- Pelet adalah pakan tambahan yang dicetak berbentuk butiran dan diberikan untuk tahah pembesaran. Formulasi pelet bermacam macam tergantung dari bahan dasarnya. Berikut ini adalah contoh formulasi pelet :
- Tepung ikan —————- 50 %
- Tepung Kedelai ———— 30 %
- Tepung terigu ————– 13 %
- Kuning telur —————- 5 %
- Premix ———————– 2 %

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam.